Sejarah Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri
merupakan kelanjutan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur. Karena mempunyai dua
orang Putra, Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua agar tidak terjadi
perebutan kekuasaan, yaitu Kerajaan Jenggala yang beribukota di Kahuripan dan
Kerajaan Panjalu atau Kediri denganibukota Daha. Pada tahun 1044 Masehi terjadi
peperangan antara Kediri dan Jenggala. Sri Samarawawijaya berhasil dikalahkan
oleh Garasakan dari Jenggala. Selanjutnya Panjalu tidak tercatat dalam
sumber-sumber sejarah untuk sementara waktu. Perebutan kekuasaan antara
Jenggala dan Kediri berlangsung hingga tahun 1052 Masehi. Pada tahun itu Raja
Mapanji Alanjung Ahyes berhasil menundukan kerajaan Jenggala. Namun itu tidak
lama memerintah karena pada tahun 1059 muncul seorang raja lain yaitu Raja
Samarotsaha yang berkuasa di kerajaan Jenggala. Setelah pemerintahan Samarotsaha
yang berkuasa, kedua kerajaan tersebut tidak tercatat dalam sumber sejarah.
Setelah 58 tahun
mengalami masa suram, Kerajaan Panjalu (Kediri) bangkit lagi sekitar tahun
1116, Raja yang memerintah antara lain Rakai Sirikan Sri Bameswara; Sri
Aryyeswara; Raja Jayabaya; Kameswara; Raja Sarweswara; Raja Kertajaya.
Kediri merupakan
kerajaan kerajaan agraris dan maritim. Masyarakat yang hidup di daerah
pedalaman kerjaan Kediri sangat
berlimpah karena karena di dukung oleh kondisi tanah yang subur. Hasil
pertanian yansg melimpah memberikan kemakmuran bagi rakyat. Pada masa itu mata
uang terbuat dari emas dan campuran antara perak, timah dan tembaga sudah
digunakan. Hubungan antar daerah pedalaman dan daerah pesisir sudah berjalan cukup
lancar. Sungai Brantas banyak digunakan untuk lalu lintas perdaganngan antara
daerah pedalaman dan pesisir.
Pada zaman Kediri karya
sastra berkembang pesat. Banyak karya
sastra yang dihasilkan. Pada masa pemerintahan Jayabaya, raja pernah
memerintahkan kepada Mpu Sedah untuk mengubah kitab Bratayudha ke dalam bahasa
jawa kuno. Pada masa pemerintahan Kameswara juga ditulis karya sastra, antara
lain kitab Wertasancaya, kitab Smaradahahana, kitab Lubdeka, kitab Kresnayana,
kitab Samanasanteka.
Pada tahun 1222 M Raja
Kertajaya berselisih melawan kaum Brahmana yang kemudian meminta perlindungan
kepada Ken Arok, Akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita cita
memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kediri. Perang antara Kediri
dan Tumapel tejadi di dekat Desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan
pasukan Kertajaya. Dengan demikian, berakhirlah masa kerajaan Kediri dan mulai
sejak saat itu menjadi bawahan Tumapel atau Singasari.

Rizal Haris Setiawan
BalasHapus